Liputan6.com, Jakarta – Selalu ada sesuatu yang baru di Bali. Salah satunya kehadiran hotel dengan beragam konsep dan fasilitas. Segera dibuka 1 Februari 2019, The Apurva Kempinski menjadi resor terbaru yang berlokasi di tepi tebing di kawasan Sawangan, Nusa Dua, Bali.

Danti Yuliandari, Direktur Marketing The Apurva Kempinski menerangkan resor ini memiliki 475 kamar, baik suite dan vila, dengan pilihan pemandangan tepi tebing dan pesisir pantai. Pemandangan lepas Samudra Hindia juga bisa terlihat dari Grand Ballroom tanpa pilar serta kapel berkapasitas 100 orang.

“Menghadirkan konsep ‘Majestic Open Air Theatre’ atau teater terbuka yang megah, The Apurva Kempinski Bali hadir dengan identitas yang unik. Keragaman Indonesia sangat kental terasa di setiap lini dari resor ini, di mana pilar spectacular, sensational, curated, dan serene, dijunjung tinggi,” kata Danti dalam Intimate Gathering with The Apurva Kempinski Bali, Selasa malam, 22 Januari 2019.

Apurva diambil dari Bahasa Sansekerta, yang berarti unik dan megah. Salah satu fitur arsitektur yang terpengaruh budaya Bali adalah gemericik aliran air pada himpunan 250 anak tangga yang terletak di tebing.

Sistem aliran air tersebut terinspirasi dari konsep sistem pengairan sawah di Bali atau yang lebih dikenal dengan subak. Sistem itu menggambarkan hidup harmonis antara manusia dan Sang Pencipta, manusia dan manusia, serta manusia dan alam sekitar, atau lebih dikenal prinsip Tri Hita Karana.

Arsitek yang ditunjuk membangun The Apurva Kempinski Bali adalah Budiman Hendropurnomo. Ia merupakan peraih penghargaan arsitektur internasional dari Denton Corker Marshall.

Ciri khas dan prinsip hidup Pulau Dewata sangat kental dalam desain arsitektur resor ini, seperti penggunaan batu alam, fitur lanskap yang menonjolkan flora lokal Bali, serta pengaplikasian gemiricik alunan air yang dilengkapi dengan keindahan kolam yang ditata dengan alami.

Sistem aliran air tersebut mengalir menuruni tebing bebatuan yang mengapit himpunan anak tangga dan menjadi ikon spektakular pilar dari resor ini. Desain megah dengan 250 anak tangga yang mengadopsi konsep Pura Besakih, semakin mempertegas esensi Bali.

Bagian arsitektur ini juga akan digunakan sebagai panggung untuk menampilkan ritual sebagai penanda senja.

2 dari 2 halaman

Kemegahan Majapahit

Gebyok yang berada di lobi Hotel The Apurva Kempinski, Bali. (dok. The Apurva Kempinski/Dinny Mutiah)

Dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, keragaman kekayaan Nusantara dikombinasikan dengan karakter tropis Indonesia menjadi inspirasi desainer interior ternama Rudi Dodo dalam menggarap The Apurva.

Bekerja sama dengan kumpulan pengrajin terbaik Indonesia, desain interior dari resor ini merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Indonesia yang terbina dari zaman kerajaaan Majapahit, tanpa melupakan sentuhan mewah dan modern ciri khas hotel bintang lima.

Mengusung konsep pendopo dengan ruang terbuka yang lebar dan langit–langit menjulang tinggi, lobi yang dinamakan dengan Pendopo ini didominasi denganpenggunaan elemen kayu dan ukiran partisi khas Jawa atau yang lebih dikenal dengan gebyok.

Di sisi kanan Pendopo Lobi ini, terdapat Selasar Deli di mana tamu dapat menikmati jajanan tradisional yang disajikan di gerobak angkringan.

Ukiran kayu dan ornamen–ornamen Bali menghiasi desain interior kamar, suite dan villa. Tak luput pun dengan pengaplikasian warna–warna natural yang memunculkan kesan hangat, dengan latar belakang pemandangan laut dan taman tropis yang menyejukkan.

The Apurva Kempinski Bali merupakan properti Kempinski kedua di Indonesia, mengikuti dua pembukaan properti lainnya dalam kurun waktu enam bulanterakhir yaitu The Capitol Kempinski Hotel Singapore dan Emerald Palace Kempinski Dubai.

Rencananya, resor ini akan memiliki restoran bawah laut pertama di Indonesia yang akan dibuka pada semester II. Sebelum itu, Anda bisa menikmati olahan para koki di Izakaya by Oku dan Reef Beach Club.

Saksikan video pilihan berikut ini: