Liputan6.com, Jakarta – Berawal dari langgar kecil di pojok kampung, Masjid Jogokariyan kini menjadi tempat yang dituju banyak orang ketika tengah berada di Yogyakarta. Di samping memiliki fungsi utama sebagai kebanyakan tempat ibadah umat Islam, masih ada keistimewaan yang bisa ditelisik dari masjid di Jl. Jogokaryan no. 36, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, ini.

Dilansir dari situs resmi Masjid Jogokariyan, Senin (28/1/2019), ada beberapa gagasan menarik dan fasilitas berbeda dari masjid yang berada sekitar 7 kilometer dari kampus Universitas Gajah Mada (UGM) ini. Berikut ulasan lengkapnya.

3 langkah manajemen masjid

Pengurus Masjid Jogokariyan menetapkan tiga langkah dalam mengurus masjid, yakni pemetaan, pelayanan, dan pemberdayaan. Pemetaan ini merujuk pada peta dakwah yang jelas, wilayah kerja nyata, dan jamaah terdata.

Pendataan yang dilakukan terhadap jamaah mencakup potensi, kebutuhan, peluang, tantangan, kekuatan, dan kelemahan. terdapat pula sensus masjid yang dilakukan setahun sekali guna menghasilkan data base dan peta dakwah komprehensif.

Tak hanya data berupa Kartu Keluarga (KK), warga mana, dan pendidikan, tapi juga siapa saja yang salat dan yang belum, yang berjamaah di masjid dan yang tidak, yang sudah berkurban dan berzakat, juga yang aktif mengikuti kegiatan masjid.

Peta Dakwah Masjid Jogokariyan memperlihatkan gambar kampung yang rumah-rumahnya berwarna-warni, yakni hijau, hijau muda, kuning, dan merah. Di tiap rumah, ada juga atribut ikonik berupa Kakbah (sudah berhaji), unta (sudah berkurban), koin (sudah berzakat), peci, dan lain-lain. Konfigurasi rumah itu dipakai untuk mengarahkan para dai yang mencari rumah warga.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Undangan Unik hingga Jamaah Mandiri

Sejumlah ibu menyiapkan menu buka puasa di masjid Jogokariyan, Jalan Jogokariyan Yogyakarta, Senin (21/5). Ribuan menu tersebut disiapkan untuk warga yang berbuka puasa sekaligus berkunjung ke “Kampoeng Ramadhan Jogokariyan”. (Liputan6.com/Gholib)

Mengundang jamaah dengan cara berbeda

Data jamaah berdasarkan pemetaan yang sudah dijabarkan digunakan untuk membuat undangan datang ke masjid yang dicetak layaknya undangan pernikahan. Semua undangan ditulis dengan daftar nama dengan menyertakan kalimat ‘Mengharap kehadiran Bapak/Ibu/Saudara…. dalam acara Salat Subuh Berjamaah, besok pukul 04.15 WIB di Masjid Jogokariyan.’

Undangan itu dilengkapi hadis-hadis keutamaan salat subuh. Itulah sebab jamaah salat Subuh di sini bisa mencapai sepertiga jumlah jamaah Salat Jumat.

Gerakan infak selalu tersisa nol rupiah

Berbeda dengan yang lain, Masjid Jogokariyan selalu berupaya keras agar di tiap pengumuman, saldo infak harus nol rupiah. Hal ini dilakukan lantaran pengumuman infak jutaan akan sangat menyakitkan ketika tetangga masjid ada yang tak bisa ke rumah sakit sebab tak punya biaya atau tengah terlilit kesulitan lain.

Hasil infak dinilai benar-benar harus dipergunakan, bukan ditimbun sampai jumlah sangat banyak. Dengan pengumuman saldo infak sama dengan nol, jamaah diharapkan lebih semangat mengamanahkan hartanya.

Gerakan jamaah mandiri

Dimulai sejak 2005, jumlah biaya setahun dihitung, dibagi 52, sehingga ditemukan biaya setiap pekan. Lalu, angka itu dibagi lagi dengan kapasitas masjid; ketemu biaya per tempat salat. Jamaah diberitahu bahwa dalam sepekan mereka berinfak dalam jumlah tersebut, maka termasuk jamaah mandiri.

Jika lebih, dia jamaah pensubsidi. Namun kalau kurang, dia termasuk jamaah disubsidi. Gerakan jamaah mandiri ini sukses menaikkan infak setiap pekan hingga 400 persen. Ternyata, orang malu jika ibadah sampai disubsidi. 

3 dari 3 halaman

Serius Kembangkan Wisata Religi

Pengendara melintas di depan masjid Jogokariyan di Jalan Jogokariyan Yogyakarta, Senin (21/5). Setiap tahun pada bulan Ramadan, Kampoeng Ramadhan Masjid Jogokaryan pasti dipenuhi jajanan kuliner untuk menu berbuka puasa. (Liputan6.com/Gholib)

Masjid Jogokariyan nyatanya tak hanya dimanfaatkan sebagai tempat ibadah dan dakwah, tetapi juga wadah berkesenian, sosial, dan berperan sebagai penggerak perekonomian. Hal ini diwujdukan dengan tersedianya 11 kamar disewakan, satu aula, dan dua ruang untuk musafir di sini.

Syubbani Rizali Noor Ketua Takmir III Masjid Jogokariyan mengatakan, hotel masjid Jogokaryan sudah ada sejak tahun 2013. Hotel masjid Jogokaryan ini terdiri 10 kamar reguler dan satu kamar VIP. dengan biaya masing-masing Rp 250 ribu dan Rp 150 ribu.

“Melayani musafir dari situ kan ada menghendaki fasilitas yang lebih baik dan memberikan layanan itu dengan infaq. Lalu, ingin privasi mungkin ada suami istri, bawa anak. Awalnya memberikan fasilitas musafir. Dalam perkembangannya ada yang ingin privasi dan perlu ada kamar,” papar Rizal.

Rizal memberi saran jika ingin menginap di hotel Masjid Jogokariyan dan mengikuti program masjid dapat menghubungi pengurus terlebih dahulu. “Kamar mandi kita ada 21 buah. 50-60 orang bisa nginep di aula,” ujarnya.