Liputan6.com, Jakarta – Nama Masjid Jogokariyan mendadak ramai jadi perbincangan seiring terjadinya ketegangan antara jemaah masjid dengan simpatisan sebuah partai politik. Ketegangan akhirnya bisa diredam setelah terjadinya kesepakatan.

Seperti apa sejarah masjid tersebut? Masjid Jogokariyan terletak di Jalan Jogokariyan 36, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Dilansir dari masjidjogokariyan.com, Senin, 28 Januari 2019, nama Masjid Jogokariyan itu disematkan dari nama kampung masjid tersebut berada.

Keberadaan masjid tersebut dimulai dari ide H. Jazuri, pengusaha batik dari Karangkajen yang memiliki rumah di Kampung Jogokariyan. Pada 20 September 1965, di atas tanah hasil tukar guling dilaksanakan peletakan batu pertama.

Bangunan masjid berukuran 9×9 m2 ditambah serambi 9×6 meter persegi. Total luas bangunan adalah 15×9 meter persegi terdiri dari Ruang Utama dan Serambi. Bangunan seluas 135 meter persegi, sedangkan luas tanah adalah 660 meter persegi.

Pada Agustus 1967, dalam rangkaian HUT RI ke-22, Masjid Jogokariyan diresmikan oleh ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Kota Yogyakarta. Selanjutnya, pada 20 Agustus adalah pembangunan aula ukuran 19×6 meter persegi di sebelah selatan masjid yang di tengahnya masih ada halaman.

Namun, dalam perkembangan masjid tidak lagi mencukupi luapan jemaah sehingga pada 1976 dibangunlah serambi selatan dengan atap seng dan pada 1978 dibangun serambi utara dengan atap alumunium krei.

Masjid tak lagi memiliki halaman, bahkan jalan masuk dari depan (arah timur) tempat meletakkan sandal saja tak ada. Karena itu, takmir memutuskan membeli tanah milik Sukaminah Hadits Hadi Sutarno seluas 100 meter persegi sehingga pada 1978, luas tanah masjid menjadi 760 meter persegi.

Dari tahun ke tahun, masjid tersebut terus berkembang, kemudian dibangun Islamic Center Masjid Jogokariyan sehingga luas tanahnya menjadi 1.478 meter persegi. Islamic Center tersebut dibangun tiga lantai. Di lantai 3 dibangun 11 kamar penginapan dan di lantai 2 meeting room untuk menjadi usaha masjid menuju masjid yang mandiri secara finansial.

“Kampung Jogokariyan yang dibuka sejak masa HB IV, setelah penduduk ndalem Beteng Baluwerti Keraton telah sesak, makan Bergodo-Bergodo prajurit Kesatuan dipindah keluar beteng bersama keluarganya dan Abdi Dalem Prajurit dari Kesatuan “Jogokariyo” dipindah di selatan benteng, di utara Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan, sehingga tempat tinggal/Palungguhan Prajurit ini sesuai dengan Toponemnya dikenal dengan nama “Kampung Jogokariyan”,” tulis situs tersebut.

Saksikan video pilihan berikut ini: